Page 49 - Binder MO 200 Oktober 2020 OK
P. 49

di lokasi, menjaga jarak, dan selalu
                                                                                            menggunakan masker. Pementasan ini
                                                                                            dilakukan tanpa adanya penonton dan
                                                                                            juga tidak ada pemotongan adegan di
                                                                                            tengah-tengah pentas.
                                                                                               “Kami menyadari, betapa merawat
                                                                                            ingatan dan semangat itu tidak mudah.
                                                                                            Diperlukan banyak pihak untuk bersama
                                                                                            berpegangan tangan, menggemakan
                                                                                            suara-suara yang selama ini diabaikan
                                                                                            Seperti yang dikatakan oleh Putu Wijaya,
                                                                                            “Bertolak dari yang ada”. Dengan segala
                                                                                            keterbatasan, proses pentas ini dapat
                                                                                            terlaksana dengan baik dan harapannya
                                                                                            semoga dapat diterima oleh masyarakat
                                                                                            luas,” ujar Happy Salma, Produser
                                                                                            sekaligus Pemain dalam monolog ini.
                                                                                               Pertunjukan teater daring “Aku,
                                                                                            Istri Munir” merupakan kerja kolaborasi
                                                                                            Titimangsa dan beberapa kreator yang
                                                                                            membaca situasi ini sebagai bentuk
                                                                                            pendekatan lain dalam menampilkan
                                                                                            sebuah karya teater dan berbagi
                                                                                            perasaan. Di sisi lain, pertunjukan ini
                               onolog “Aku, Istri Munir”   luas terhadap Munir, anak-anaknya, dan   memberikan ruang-ruang baru bagi
                               mengambil sudut         perjuangan Hak Asasi Manusia.        para kolaborator dalam berkarya, yang
                               pandang seorang            Naskah monolog “Aku Istri Munir”   kemudian ruang-ruang tersebut diisi
                  M Suciwati Munir, istri dari         ditulis oleh Seno Gumira Ajidarma    dengan perasaan yang sama terhadap
                  pejuang Hak Asasi Manusia di Indonesia,   yang diperankan oleh Happy Salma   isu yang sampai saat ini belum ada titik
                  Munir Said Thalib. Munir adalah seorang   dalam acara peringatan 11 tahun   terangnya, atau bahkan terhadap isu
                  advokat yang vokal memperjuangkan    kematian Munir pada 2015 lalu. Hingga   yang tengah hangat diperbincangkan.
                  keadilan bagi orang-orang yang       2020, naskah ini masih tetap relevan    “Aku, Istri Munir” menyuguhkan
                  terampas haknya. Ia dibunuh pada 2004,   dengan situasi saat ini. “Aku, Istri Munir”   monolog yang apik dari Happy Salma,
                  dan hingga kini pelaku pembunuh      merupakan sebuah persembahan         naskah yang indah oleh Seno Gumira
                  Munir yang sebenarnya belum diadili.   dari Titimangsa Foundation dalam   Ajidarma, dan Marsha Timothy turut
                     Suciwati hingga 16 tahun kemudian,   upaya merawat ingatan. Saat ini, Munir   ambil bagian dengan menulis prolog.
                  tetap tidak tinggal diam dengan      bukanlah sekedar nama, tapi juga        Pementasan ini merupakan
                  kepergian yang janggal tersebut. Dia   menjadi salah satu simbol perjuangan   kolaborasi bersama dari Happy, Heliana
                  terus merawat ingatan dan perjuangan   melawan impunitas.                 Sinaga, Iskandar Loedin, Yosep Anggi
                  suaminya yang telah tiada. Dengan       Proses latihan dan pementasan     Noen, Deden Jalaludin Bulqini, Andreas
                  caranya, ia hadir demi keadilan yang   dijalani dengan tetap melaksanakan   Arianto, Nikki Asvikarani, Pradetya
                  dia cari sebagai bukti cintanya yang   protokol kesehatan. Tidak banyak orang   Novitri, dan Johan DIdik H. n






                                                                                                                            |  49
   44   45   46   47   48   49   50   51   52   53   54