Page 69 - Binder WO 090 REVISI_opt
P. 69
tentang perjalanan Ismail Marzuki dalam
menciptakan lagu-lagunya. Dia menjadikan setiap
lagu sebagai senjata. Ismail sejak muda memang
tidak pernah terlibat perang secara fisik melawan
penjajah, dia juga tidak mengangkat bedil. Tapi
untuk seorang Ismail Marzuki, lagu-lagunya menjadi
senjata dirinya. Baik untuk mengritik hingga
membakar semangat para pejuang.
Semangat dan tekatnya yang begitu kuat dalam
menulis lirik-lirik lagu membuat Ismail berdiri tegak,
meskipun mendapat berbagai kritikan ataupun
ancaman dari berbagai pihak kala itu. Puluhan
lagu bernuansa peperangan, tentang rasa cintanya
terhadap Indonesia, dan semangat perjuangan pun
tidak pernah berhenti dia persembahkan. Sedikit
banyak kecintaannya terhadap musik diturunkan
langsung dari sang ayah tercinta. Termasuk salah
satunya bagaimana cara memainkan alat musik biola
dan gitar kecil. Menurut Ismail Marzuki, “Musik tidak
bisa diberangus dalam kotak-kotak barat dan timur.”
Untuk itu, di usianya yang baru menginjak 17 tahun,
dia menciptakan lagu ‘O Sarinah’ yang mengajak para
perempuan di desa-desa, agar semangat membangun
negara dengan cara berbeda, bekerja di sawah. Belum
lagi lagunya yang berjudul ‘Indonesia Pusaka’, ‘Rayuan
Pulau Kelapa’ dan ‘Sapu Tangan dari Bandung Selatan’
yang berhasil menyalakan obor semangat bagi para
pejuang di garis terdepan.
Monolog ini juga mengisahkan bagaimana
Ismail teringat Eulis, istrinya, yang dia tinggalkan
di Jakarta ketika dia bepergian ke Solo. Dalam
perjalanan tersebut, kereta sempat berhenti di
Stasiun Tugu Yogyakarta. Dia pun melihat bagaimana
para pejuang memanggul senjata dengan mata
yang tajam dan penuh semangat. Ismail juga turut
mengingat mata sang istri tercinta kala itu. Maka
pada momen tersebut terciptalah lagu ‘Sepasang
Mata Bola’ yang sangat indah.
68 | | 69

