Page 85 - Binder WO 069
P. 85
ejak pandemi merebak di seluruh dunia, hand sanitizer
adalah benda yang tidak boleh tertinggal setelah masker.
Kemampuannya membersihkan tangan tanpa perlu dibilas
S menjadikannya pembersih yang efektif ketika berada jauh dari
toilet atau sebelum mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir. Baru
ramai diperbincangkan dan digunakan hampir semua orang, berikut sejarah
penggunaan hand sanitizer.
Penggunaan hand sanitizer pertama kali, yakni pada tahun 1966.
Produk tersebut dibuat oleh Lupe Hernandez, mahasiswa keperawatan
di Bakersfield, California, yang menggabungkan alkohol dan gel.
Produk digunakan oleh para dokter dan perawat sebelum berhadapan
dengan pasien.
Menurut versi lain, ada Sterillium sebagai disinfektan tangan berbasis
alkohol pertama di dunia yang mengandung gliserin dan alkohol 75%.
Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menyebutkan hand
sanitizer dapat membantu mencegah penyebaran Covid-19 dengan
menjaga kebersihan tangan.
Namun, anjuran penggunaan tersebut hanya berlaku jika Anda berada
jauh dari tempat mencuci tangan.
Hand sanitizer yang dianjurkan CDC minimal mengandung 60% alkohol.
WHO pernah menerbitkan panduan pembuatan hand sanitizer, yakni
mengandung etanol 96%, hidrogen peroksida 3%, gliserol 98%, dan
akuades (formula 1).
Bisa juga dengan campuran isopropanol 99,8%, hidrogen peroksida 3%,
gliserol 98%, dan akuades (formula 2).
Nantinya, produk yang di dapat akan mengandung kadar etanol
80%(v/v) (formula 1) atau isopropanol 75%(v/v).
Saat ini tidak sedikit produsen yang menggunakan gel, seperti glikol dan
gliserin untuk mencegah kulit menjadi kering.
Sebagian besar pembersih tangan yang beredar mengandung 60%
hingga 95% isopropil atau etil alkohol.
Hand sanitizer yang beredar di pasaran kebanyakan berupa gel atau
cairan semprot.
Meningkatnya minat masyarakat terhadap produk pembersih tangan
yang satu ini membuat banyak produsen berlomba menciptakan hand
sanitizer yang menarik. Mulai dari kandungan lidah buaya, hingga wangi
yang beraneka ragam.
| 85

