Page 65 - Binder MO 208
P. 65
eading berkililing Amerika, lingkungan menjadi kanvas untuk lukisan yang
menyambangi pantai dan taman memesona. Ia juga tertarik dengan sepatu dan
nasional hanya untuk memungut sandal yang dibuang begitu saja karena barang
R sampah di sana dan melukiskan bekas ini merupakan jejak sungguhan dari sampah
pemandangan tempat sampah itu dibuang. yang dihasilkan manusia.
Ia ingin mengampanyekan pentingnya “Saya biasanya menggendong tas ransel berisi
membuang sampah pada tempatnya, serta peralatan lukis. Jika saya menemukan sampah saat
mempertanyakan apakah manusia dan sampah mendaki dan keadaan sekitarnya bagus, saya akan
terpisah dari lingkungan atau terintegrasi dengannya. langsung melukis pada sampah itu. Jika seperti ini,
Besar dalam keluarga artistik di lingkungan saya bisa melihat warna dan gerakan apa saja yang
Maine yang indah, Reading sangat suka melukis bisa dimasukkan ke dalam lukisan,” tuturnya.
pemandangan semasa sekolah dulu. Ia terinspirasi Apabila cuaca tidak mendukung, ia akan
oleh para pelukis Impresionis. Namun, ia baru mulai memfoto pemandangan dan menuangkannya ke
menghasilkan karya yang sadar lingkungan sebelum lukisan di dalam studio. Ia juga suka mencari sampah
lulus kuliah. di pusat daur ulang atau menggunakan kaleng dan
Reading tersadar sebagian besar peralatan lukis botol bekasnya sebagai kanvas.
akan berakhir jadi sampah, seperti tong besar beton Sejauh ini, Reading telah berkelana dari Hawaii
dan karet yang dibutuhkan untuk membuat cetakan. sampai Kutub Utara. Ia menginisiasi aksi bersih-
“Semuanya akan terbuang sia-sia jika campuran bersih untuk membantu masyarakat setempat.
(air atau cat) tidak tepat. Lalu, menghasilkan Dulu ia mencari pekerjaan paruh waktu di kedai dan
sampah basah yang berat,” katanya dilansir dari restoran yang dekat dengan tempat yang dikunjungi,
Indonesiadailynews.id. tapi sekarang ia melakoni residensi di berbagai
Dari situlah, Reading terpikir mengganti taman nasional Amerika Serikat. Ia juga menggelar
peralatan. Dalam proyek kelulusan, ia lokakarya seni lingkungan selama residensi. Warga
mengumpulkan sampah untuk dijadikan kanvas, lalu diajak memungut sampah sambil belajar melukis.
melukis pemandangan pada benda itu. “Taman Nasional Denali di Alaska paling
Sementara tugas akhir menyadarkannya menggugah inspirasi. Saya berasal dari Maine yang
akan ironi bahwa alat yang digunakan pelukis iklimnya sedang, jadi saya merasa takjub bisa melihat
pemandangan dapat menghasilkan sampah, risetnya hamparan lingkungan di wilayah Tundra, bertemu
selama inilah yang mendorong Reading untuk beruang, menyaksikan bunga liar tumbuh di salju,
berkontribusi dalam upaya konservasi. Tak lama saya hidup penuh kegembiraan dan ketakutan,”
setelah lulus kuliah, ia memulai misi memungut ungkapnya.
sampah di tempat-tempat paling indah di dunia. Ia juga tidak bisa melupakan kunjungannya
Sampah kaleng bir, keyboard, alat pendeteksi ke Antartika pada saat musim panas. “Orang
asap, dan botol adalah harta bagi Reading. Ia cenderung lupa dengan perubahan iklim karena
menyulap apa yang sebelumnya mengotori tinggal di iklim sedang, tapi akan langsung
menyadari seberapa cepat
perubahannya jika mengunjungi
Kutub Utara dan Selatan. Kalian
akan melihat bagaimana lapisan
es semakin menipis dan hewan-
hewan kehilangan habitatnya.
Pemandangannya cepat berlalu,
sehingga saya merasa harus
melestarikannya dalam lukisan,”
tegasnya.
Bagi Reading, seni mampu
membuat manusia terhubung dan
terlibat, serta membuat perubahan
yang memiliki hubungan
mendalam. “Grafik atau statistik
tentang perubahan iklim takkan
mungkin bisa melakukan itu,”
pungkasnya. ■
| 65

